Pagi yang Sederhana, Terasa Sempurna Bebas Gejala Mata Kering
“Kapan kita ke Unila lagi, mi?” pinta si bungsu kepadaku beberapa hari kemarin.
"InsyaAllah hari Minggu pagi ya dek," jawabku.
Ya, biasanya memang di akhir pekan, ketika tidak ada agenda yang mendesak, kami akan keluar rumah sebentar. Bukan ke mall, ke kafe yang sedang viral atau tempat wisata yang ramai.
Kami justru lebih memilih pergi ke embung yang ada di lingkungan sebuah kampus negeri yang tidak jauh dari rumah. Kadang di pagi hari, tak jarang juga di sore hari. Meski sederhana, tetapi selalu berhasil membuat hati kami terasa bahagia.
Di sana ada jalur pejalan kaki mengelilingi tepian embung yang biasa dimanfaatkan pengunjung untuk berolahraga ringan, pepohonan yang rindang, angin pagi yang sejuk dan pemandangan yang indah.
Mungkin bagi sebagian orang, tempat ini terasa biasa saja, tidak terlalu spesial. Tetapi justru di sanalah kami menemukan sesuatu yang sering hilang ditelan rutinitas harian yakni waktu bersama yang berkualitas atau yang lebih sering disebut family time.
Terlebih lagi kami kerap kali menjalani weekday dengan kesibukan masing-masing. terlebih lagi akhir-akhir ini suami pulang lebih larut dari kantor, aku mengejar deadline pekerjaan dan menyelesaikan tugas rumah tangga yang menumpuk, sedangkan anak-anak sibuk dengan aktivitas sekolah yang padat. Rasanya, kami hanya bertemu saat pagi yang terburu-buru atau malam ketika semua sudah merasa lelah.
Oleh karena itulah, di hari minggu pagi kemarin kami sepakat untuk tidak membuat rencana yang rumit. Cukup membawa tikar kecil, beberapa camilan, raket dan kok untuk bermain badminton, lalu menghabiskan pagi bersama di embung.
Kami sengaja meninggalkan rutinitas harian sejenak agar pagi itu hanya diisi dengan olahraga bersama, obrolan ringan, dan tawa anak-anak.
Setelah lelah berolahraga ringan, kami duduk melingkar bawah pepohonan yang tak jauh dari di embung. Menyantap camilan sebagai menu sarapan pagi itu, sambil menikmati langit pagi dan angin yang bertiup lembut.
Momen seperti ini selalu terasa sederhana. Namun, entah mengapa dibalik kesederhanaan itulah yang membuatnya begitu berarti.
Tidak ada layar televisi atau gadget.
Tidak ada notifikasi pekerjaan.
Hanya kebersamaan kami, suasana pagi yang tenang, dan waktu yang berjalan lebih pelan.
"Ah, sepertinya gejala mata kering mulai muncul lagi, nih," pikirku. Mungkin karena semalam terlalu lama menatap layar, ditambah pagi ini aku sepertinya kurang berkedip padahal matahari sedang sangat ceria dalam memancarkan sinarnya, bikin mata jadi silau.
Selain itu, terdapat Benzalkonium Chloride 1,0 mg yang berperan sebagai bahan pengawet untuk menjaga sterilitas produk. Insto Dry Eyes juga diformulasikan dengan beberapa bahan lainnya seperti Sodium Chloride, Disodium Edetate Dihydrate, Purified Water, Dibasic Sodium Phosphate Heptahydrate, Sodium Phosphate Monobasic Monohydrate, dan Glycerol.
Dengan formulasi tersebut, Insto Dry Eyes dapat menjadi salah satu pilihan yang tepat membantu meredakan gejala mata kering yang sering kali dianggap SePeLe ketika aktivitas sedang padat.
Sejak itulah, kami selalu menyediakannya baik di rumah maupun saat bepergian. botolnya yang berukuran kecil 7,5 ml, bisa dibawa dengan mudah ke mana saja. Jika habis atau sudah terbuka setelah 1 bulan, kami membelinya lagi di minimarket terdekat, apotek, supermarket atau marketplace. Harganya cukup terjangkau, hanya kisaran delapan belas ribuan saja.
Aku pun tetesin Insto Dry Eyes sesuai petunjuk penggunaan yaitu 1-2 tetes pada setiap mata.
Tidak lama kemudian, rasa tidak nyaman tersebut mulai berkurang. Dan akhirnya aku bisa ikut bergabung main bulu tangkis juga. Memang sudah seharusnya mata kering jangan disepelein.
Supaya momen kebersamaan yang sudah lama dinantikan bersama keluarga terlalu berharga jika harus terganggu hanya karena mata terasa tidak nyaman. Untungnya, kini aku selalu membawa Insto Dry Eyes agar #BebasMataKering, sehingga bisa tetap hadir sepenuhnya dalam setiap halaman cerita yang kami ukir dan setiap kenangan yang kami ciptakan bersama.
Posting Komentar